KEARIFAN BUDAYA LOKAL (KABUPATEN KUDUS)

Posted: May 1, 2013 in Uncategorized

 

A. PENDAHULUAN

Kabupaten kudus merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukota dari kabupaten ini adalah Kudus, terletak di jalur pantai timur laut Jawa Tengah antara Kota Semarang dan Kota Surabaya. Kota ini terletak kurang lebih 51 kilometer dari timur Kota Semarang. Kabupaten Kudus juga berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat.

Kabupaten kudus sendiri juga merupakan kota santri yang kaya akan budayanya. Selain sebagai kota yang kaya akan budaya serta terkenal sebagai kota santri, Kabupaten Kudus juga memiliki kearifan lokal yang tertanam dalam kehidupan masyarakatnya.

Kearifan lokal berasal dari 2 kata, yaitu kearifan yang berarti kebijaksanaan, dan lokal yang berarti keadaan setempat. Maka kearifan lokal memiliki arti sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, serta pandangan masyarakat. Pandangan serta gagasan yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, memiliki nilai baik dan tertanam sehingga diikuti oleh masyarakat yang terdapat pada daerah itu sendiri.

Dengan demikian Kabupaten Kudus juga memiliki kearifan lokal yang telah menjadi gagasan, nilai, serta pandangan masyarakat di Kabupaten Kudus. Kearifan lokal yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang telah tertanam serta diikuti oleh masyarakat Kabupaten Kudus itu sendiri.

B. PEMBAHASAN

Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki kearifan sosial masing-masing. Kearifan sosial yang telah melekat dan tertanam sehingga diikuti oleh masyarakat setempat. Begitu pula di Kabupaten Kudus, di daerah Kabupaten Kudus terdapat beberapa nilai dan pandangan yang telah menjadi kearifan lokal yang tertanam dalam kehidupan masyarakatnya.

Berikut adalah beberapa contoh kearifan lokal yang telah tertanam dan diikuti oleh masyarakat di Kabupaten Kudus :

1. ETOS GUSJIDANG (BAGUS, NGAJI, dan DAGANG)

Etos GUSJIGANG memiliki makna ‘GUS’ yang berarti bagus, ‘JI’ yang berarti mengaji, dan ‘GANG’ yang berarti berdagang. Melalui filosofi inilah Sunan Kudus menuntun para pengikutnya beserta masyarakat Kudus menjadi orang-orang yang memiliki kepribadian yang bagus, tekun mengaji, dan mau berusaha atau berdagang.

Ajaran yang telah ditanamkan oleh Sunan Kudus tersebut telah membawa pengaruh besar terhadap warga Kudus, khususnya warga sekitar Masjid Al Aqsha yang kini dikenal dengan Kudus Kulon sebagai masyarakat agamaisyang pandai berdagan. Keberadaan masjid yang berdekatan dengan pasar ini semakin memperkuat prinsip ‘GUSJIGANG”.

Masjid Al Aqsha sendiri merupakan masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus, Masjid yang kemudian menjadi sentral nadi kehidupan masyarakat Kudus. Bangunan Masjid yang memadukan arsitektur Jawa, Islam, Hindu, dan China yang kemudian menjadi saksi sekaligus pengikat abadi tumbuh dan berkembangnya filosofi Sunan Kudus, yaitu ‘GUSJIGANG’.

Sunan Kudus sendiri adalah seseorang yang ahli dalam bidang seni budaya dan juga kebudayaan. Hal inilah yang membuat Kudus menjadi kaya akan seni budaya, baik seni budaya islami maupun seni budaya lokal, maupun perpaduan antara keduanya. Kemudian kearifan serta karakter Sunan Kudus diwarisi oleh ulama dan masyarakat sekitar bangunan menara dan Masjid yang dibangun oleh Sunan Kudus.

Semua hal serta sejarah inilah yang membawa nilai-nilai dalam etos dan filosofi ‘GUSJIGANG’ menjadi salah satu ciri khas, nilai, serta pandangan yang telah tertanam, memiliki nilai kebaikan serta kebijaksanaan sehingga diikuti oleh masyarakat di Kabupaten Kudus sendiri.

2. TRADISI PERAWATAN RUMAH PENCU

Rumah Pencu merupakan salah satu bagian dari hasil budaya materi yang berasal dari masyarakat Kudus pada masa lalu. Identitas mengenai tingkat budaya masyarakatnya tercermin melalui arsitektur, ragam hias, serta konsep dari latar belakang pembangunan rumah tersebut.

Persebaran rumah pencu di Kabupaten kudus tersebar di wilayah Kudus Kulon dan Kudus Wetan. Proses perawatan rumah pencu sendiri dilakukan oleh masyarakat pemiliknya sendiri dengan cara tradisional dan juga turun-temurun dari generasi ke generasi. Proses perawatan rumah tersebut menggunakan beberapa ramuan tradisional yang biasa terdapat pada lingkungan sekitar rumah.  Ramuan tradisional yang digunakan adalah rendaman pelepah pisang, air merang, dan air rendaman cengkeh.

Proses perendaman ramuan tersebut berbeda-beda waktunya dan yang paling singkat adalah rendaman air merang dan air pelepah daun pisang-tembakau yang rata-ratamemakan waktu sekitar 7 hari, sedangkan rendaman air cengkeh memakan waktu lebih dari 7 hari. Proses pencucian rumah sendiri berlangsung selama 2 bulan atau lebih. Hal ini disebabkan oleh tingkat kemampuan ekonomis setiap pemilik rumah dalam mempekerjakan ahli perawatan rumah pencu.

Penggunaan beberapa ramuan tersebut telah terbukti efisiensinya, ramuan tersebut juga efektif dalam mengawetkan kayu jati sebagai bahan dasar rumah pencu agar terhindar dari serangan rayap. Selain itu, ramuan tersebut juga meningkatkan pamor dan permukaan kayu menjadi lebih bersih.

Dalam proses pencuciannya, rumah pencu tidak bisa dicuci oleh sembarang orang, hanya orang-orang tertentulah yang bias membersihkan rumah pencu. Biasanya setiap tahun berlangsung dua kali pencucian rumah pencu.

Kearifan lokal yang terlihat dari tradisi perawatan rumah pencu dapat dilihat dari sisi bagaimana masyarakat Kudus mengkonversasi rumah pencu tersebut yang berbahan utama  kayu dengan ramuan tradisional dari leluhur mereka. Nilai-nilai dan pandangan tentang perawatan rumah pencu sendiri telah melekat dan tertanam sehingga diikuti oleh tiap masyarakat di Kabupaten Kudus khususnya masyarakat Kudus Kulon.

3. UPACARA BUKA LUWUR

Buka Luwur merupakan upacara penggantian kain kelambu penutup makam Sunan Kudus yang dilaksanakan setiap tahun.  Puncaknya  pada 10 Muharam. Namun sejak beberapa tahun belakangan upacara Luwur dilaksanakan pada tanggal 1 Muharam.

Upacara Buka Luwur dilaksanakan demi menghormati dan memperingati hari wafatnya Sunan Kudus. Kesan menmperingati wafatnya Sunan Kudus timbul karena rangkaian acara pelepasan dan pemasangan kain kelambu penutup makam ditandai dengan tahlilan, acara tahlilan sangat identik dengan upacara haul lainnya.

Jika dilihat dari fakta, sebenarnya hari wafatnya Sunan Kudus bukanlah jatuh pada tanggal 1 atau 10 muharam. Namun kepastian kebenaran tanggalnya belum dipastikan. Kepastian tentang wafatnya Sunan Kudus adalah pada tahun 1555. Dengan demikian, prosesi Buka Luwur sebenarnya adalah upacara haul yang dikemas untuk menghindari anggapan bahwa tanggal tersebut merupakan wafatnya Sunan Kudus.

Upacara buka luwur sendiri menjadi tradisi yang hidup berkat gairah masyarakat untuk menjaga kelangsungannya setiap tahun, maka Buka Luwur dapat dikatakan sebagai kearifan lokal di daerah Kabupaten kudus dan memiliki nilai yang tertanam di dalamnya. Timbal balik dari pelaksanannya adalah menghidupi para warga sehingga terjadi hubungan simbiosis mutualisme sehingga upacara menjadi tradisi yang terus berlangsung dan terjaga kearifan lokalnya. Daya kekuatan pemersatu dari Upacara Buka Luwur merupakan modal sosial bagi kelangsungan tatanan masyarakat yang saling memerhatikan.

C. PENUTUP

KESIMPULAN

Setiap daerah pasti memiliki kearifan budaya lokalnya masing-masing. Kearifan budaya yang telah tertanam dan memiliki nilai-nilai yang dianggap baik sehingga diikuti dan selalu dilaksanakan oleh anggota masyarakatnya. Kearifan budaya lokal tentunya menjadi ciri khas dan juga identitas bagi setiap daerah dan masyarakatnya yang ditanamkan dari dahulu sampai sekarang.

Begitu pula bagi daerah Kabupaten Kudus, tentunya memiliki kearifan budaya lokalnya. Seperti Gusjigang, Buka Luwur, dam juga Tradisi Perawatan Rumah Pencu. Beberapa kearifan budaya lokal tersebut telah tertanam dan memiliki nilai-nilai bagi masyarakat di Kabupaten Kudus sehingga diikuti dan dilaksanakan rutin setiap waktu tertentu.

SARAN

Sebagai masyarakat yang cinta terhadap budaya lokal tentunya kita harus memelihara dan menjunjung nilai-nilai kearifan budaya lokal agar tidak punah dan luntur dari masyarakat. Kita harus menjaga agar kearifan budaya lokal tetap tertanam dan terjaga, sehingga setiap daerah di Indonesia memiliki identitas dan juga ciri khasnya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

http://kompas.com/news/read/2011/08/02/12221026/Gusjigang.Sunan.Kudus.Melintas

http://paradigmainstitute.com/paradigma/humaniora/wawancara/ajaran-sunan-kudus-sumber-karakter-masyarakat-kudus.html

http://forjanuary.blogspot.com/2012/06/kearifan-lokal-di-kota-kudus.html?m=1

http://www.feb.undip.ac.id/index.php/arsip-berita/61-dosen/497-prof-purbayu-kearifan-lokal-buka-luwur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s